SUDAHKAH ANDA SHOLAT ???

Selasa, 28 Desember 2010

HUBBUDDUNYA

Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh
Larutnya bubuk biji kopi dan gula oleh air termos dalam cangkir menebarkan aroma wangi kopi pagi ini. Alhamdulilah puji syukur hanya bagiMu ya Alloh….
Ditemani pagi yang cerah dan secangkir kopi kucoba mencari makna hidup ini, sebenarnya hakikat manusia diciptakan di dunia ini sudah dijelaskan didalam Al Qur’an Surat Adzaariyaat ayat 56 : Wama kholaqtul jinna wal insa illa liya’buduun, yang artinya : “Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembahKu” menyembah dalam hal ini adalah beribadah kepada Alloh SWT sesuai dengan tuntunan Rosululloh SAW. Namun demikian terkadang kita tidak menyadari perihal itu, setiap hari disibukkan dengan masalah-masalah dunia yang tiada pernah usai sehingga lupa akan tujuan yang hakiki dari keberadaan kita didunia ini. Kita lebih merasa iri dengan motor baru tetangga daripada menyisihkan sebagian harta untuk fakir miskin, lebih mementingkan waktu luang kita untuk menambah penghasilan daripada mendekatkan diri pada Alloh, lebih memanjakan mata kita untuk melihat dan membaca berita selebriti daripada membaca dan mengkaji ayat-ayat Alloh, lebih suka membicarakan kejelekan orang daripada bermuhasabah (introspeksi diri).
Terkadang kita tidak sadar telah menderita ”hubbuddunya” cinta dunia, hal ini bisa menyebabkan “panjang angan-angan” (keinginan kosong/ lamunan/ anggapan yang keliru tentang masa depan) dan berfikir akan hidup lama didunia sehingga efeknya adalah “lupa mati”. Bagi orang yang lupa mati akan terbuka akses untuk berbuat salah / dosa, dan ada kecenderungan perbuatan salah atau dosanya dianggap sudah biasa, mereka tidak menyadari kalau setiap detik waktunya didunia akan dipertanggungjawabkan dihadapan Alloh kelak di akherat, QS. Al Hasyr : 18 “ Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat), dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan”

. Marilah bertanya pada hati kita : Siapa kita?, dari mana kita? Dan untuk apa kita dilahirkan didunia ini? Sehingga semua yang diperbuat didunia ini dalam rangka meningkatkan ketaqwaan kita kepada Alloh SWT ….
Wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh

Minggu, 26 Desember 2010

Agama yang sempurna

Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh
Di dunia ini ada berbagai macam agama yang dianut oleh umat manusia, namun diantara agama tersebut Islam adalah agama yang diterima oleh Allah SWT. Islam adalah rahmatan lil alamin, rahmat untuk alam semesta. Agama ini telah dibawa oleh Rosululloh Muhammad SAW sebagai utusan-Nya. Aku bersaksi bahwa tiada Robb yang berhak disembah selain Allah, tiada sekutu bagi-Nya. Dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan Rosul-Nya. Beliau diutus oleh Allah dengan membawa petunjuk dan agama yang haq. Beliaupun telah menyampaikan risalah, melaksanakan amanah, tulus dan kasih kepada umatnya, serta berjihad dijalan Allah dengan sebenar-benarnya, sampai beliau pulang ke rahmat-Nya. Sedang umatnya beliau tinggalkan pada jalan yang terang benderang, dan barangsiapa yang menyimpang darinya pasti binasa.
Islam dengan Al Qur’an sebagai kitab sucinya adalah agama yang sempurna, mencakup segala aspek kehidupan yang mengatur manusia dari tarikan nafas pertama didunia hingga hembusan nafas terakhir hidup manusia bahkan mencakup pengetahuan kehidupan setelah kematian. Sehingga tidak perlu diragukan lagi kebenaran Al Qur an dan Sunah Rosul sebagai pedoman hidup umat Islam. Dan janganlah kita berbuat dholim dengan menambah atau mengurangi ajaran Allah ini. Nauzubillah….
Allah SWT berfirman dalam Al Qur’an yang artinya:
“ Dan Kami turunkan kepadamu kitab ( Al Qur’an ) untuk menjelaskan segala sesuatu “ ( QS. An-Nahl : 89 )
Dengan demikian, tidak ada sesuatu yang dibutuhkan oleh manusia baik yang menyangkut masalah kehidupan di akhirat maupun masalah kehidupan didunia, kecuali telah dijelaskan Allah SWT dalam Al Qur’an secara tegas atau dengan isyarat, secara tersurat maupun tersirat.
Mungkin ada orang yang bertanya: “ Adakah ayat didalam Al Qur’an yang menjelaskan jumlah shalat lima waktu berikut bilangan raka’at tiap-tiap sholat, bagaimana dengan firman Allah yang menjelaskan bahwa Al Qur’an diturunkan untuk menerangkan segala sesuatu, padahal kita tidak menemukan ayat yang menjelaskan tentang bilangan raka’at tiap-tiap shalat?”
Jawabnya : Allah SWT telah menjelaskan didalam Al Qur’an bahwasanya kita diwajibkan mengambil dan mengikuti segala apa yang telah disabdakan dan ditunjukkan oleh Rosululloh SAW, hal ini berdasarkan firman Allah SWT dalam QS. An Nisa : 80 yang artinya :
“ Barangsiapa yang mentaati Rosul SAW sesungguhnya ia telah mentaati Allah” ( QS. An Nisa : 80 )
Saudaraku, apabila saudara meyakini akan hal-hal diatas, maka apakah masih ada sesuatu hal tentang ajaran Islam yang dapat mendekatkan kepada Allah yang belum dijelaskan oleh Nabi SAW sampai beliau wafat?
Sebagai bukti bahwa Nabi Muhammad SAW telah menjelaskan segala apa yang diperlukan manusia dalam ibadah, mu’amalah dan kehidupan mereka, yaitu firman Allah QS. Al Maidah : 3 yang artinya :
“ Pada hari ini, telah Kusempurnakan untukmu agamamu, dan telah Kucukupkan kepadamu ni’matKu, dan telah Kuridloi Islam itu jadi agamamu “ ( QS. Al-Maidah : 3 )
Apabila masalah-masalah tadi sudah jelas dan menjadi ketetapan saudara, maka ketahuilah bahwa siapapun yang berbuat suatu bid’ah dalam agama, walaupun dengan tujuan yang baik, maka bid’ahnya itu selain merupakan kesesatan adalah suatu tindakan MENGHUJAT AGAMA dan MENDUSTAKAN FIRMAN ALLAH, yang artinya “ Pada hari ini telah Kusempurnakan untukmu agamamu….”, karena dengan perbuatannya tersebut dia seakan-akan mengatakan bahwa ajaran Islam itu belum sempurna, sebab amalan yang diperbuatnya dengan anggapan dapat mendekatkan diri kepada Allah SWT belum terdapat didalamnya.
Pembaca yang budiman.
Disini penulis mau bertanya, dan mohon demi Allah SWT agar jawaban yang anda berikan berasal dari hati nurani, bukan secara emosional, jawaban yang sesuai dengan tuntunan agama anda, bukan karena taklid (ikut-ikutan)
Apa pendapat anda tentang orang-orang yang melakukan bid’ah dalam agama Allah, baik yang berkenaan dengan Dzat, Asma’ dan sifat Allah, atau yang berkaitan dengan pribadi Rasulullah SAW, kemudian mereka mengatakan bahwa kamilah yang mengagungkan Allah dan Rasulullah?
Apakah mereka ini yang lebih berhak sebagai pengagung Allah dan Rasul-Nya, ataukah orang-orang yang tidak menyimpang seujungjaripun dari syari’at Allah, yang berkata: “Kami beriman kepada syari’at Allah yang dibawa Nabi Muhammad, kami mempercayai apa yang diberitakan, kami patuh dan tunduk terhadap perintah dan larangan, kami menolak apa yang tidak ada dalam syari’at, tak patut kami berbuat lancang terhadap Allah dan Rasul-Nya, atau mengatakan dalam agama Allah apa yang tidak termasuk darinya?”
Siapakah menurut anda yang lebih berhak untuk disebut sebagai orang yang mencintai serta mengagungkan Allah dan Rasul-Nya? Wallohu alam…
Yang jelas Rosullulloh bersabda :
“Jauhilah perkara-perkara baru, karena setiap perkara baru itu bid’ah, dan setiap bid’ah itu kesesatan, dan setiap kesesatan itu masuk kedalam neraka”
Wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Referensi : Kesempurnaan Islam dan Bahaya Bid’ah
( Syekh Muhammad bin Shaleh Al Utsaimin )

Selasa, 21 Desember 2010

REMUNERASI

Akhir-akhir ini di surat kabar muncul berita tentang Remunerasi, satu kata bak mantra sihir yang dapat mengembangkan senyum lebar bagi Pegawai Negeri Sipil yang instansinya telah memberlakukan aturan tersebut. Pengertian Remunerasi menurut kamus Bahasa Indonesia adalah pemberian hadiah (penghargaan atas jasa dsb); imbalan. Sedangkan menurut bahasa Inggris yaitu Remuneration. Wikipedia memberi penjelasan, “Remuneration is pay or salary, typically a monetary payment for services rendered, as in an employment. Usage of the word is considered formal.”
Beberapa Instansi Dinas sudah memberlakukan remunerasi ini, sehingga pendapatan para Pegawainya bisa berlipat ganda dan cenderung labih besar daripada gaji pokoknya. Pemerintah dalam hal ini berharap dengan pendapatan yang lebih dari cukup, para abdi negara tersebut bisa membuang jauh pikiran untuk berbuat curang dan mengeliminir terjadinya penyalahgunaan kewenangan berupa tindakan korupsi, kolusi dan nepotisme di lingkungan pemerintahan. Namun demikian, masih ada saja beberapa manusia yang berakhlak buruk dan tidak pernah merasa cukup. Semakin banyak ia mendapatkan materi, semakin besar niat mereka untuk berperilaku negatif, berjudi, mabuk-mabukan, berselingkuh dan sebagainya.
Tanpa bermaksud pesimis /menyanggah harapan pemerintah, nampaknya tidak ada korelasi yang signifikan antara Remunerasi dengan kinerja pegawai, karena semuanya berawal dari akhlak dan moral manusianya. Justru keikhlasan dan moralitas seseoranglah yang berpengaruh terhadap kinerjanya.
Terlepas efektif atau tidaknya remunerasi terhadap kinerja Pegawai Negeri, kami ikut berbahagia kepada mereka yang mendapatkannya, semoga mereka dapat memenuhi keinginan pemerintah untuk memperbaiki kinerjanya. Kami bukan Pegawai Negeri tetapi juga mengabdi pada negeri tercinta ini berharap sekali beberapa hal :
1.Instansi pemerintah perlu memberikan reward kepada pegawainya yang berprestasi dan pemberian punishment bagi mereka yang menyalahi aturan, sehingga ada bedanya antara yang bekerja baik dengan buruk.
2.Perlu pendidikan akhlak dan moral bagi para pegawai negeri secara kontinyu agar terjadi keseimbangan antara IQ, EQ dan SQ sehingga tidak akan muncul lagi Gayus-gayus yang lain.
3.Peningkatan kesejahteraan pegawai negeri baik dalam bentuk kenaikan gaji, Uang makan, remunerasi dan sebagainya hendaknya jangan sampai menimbulkan dampak kenaikan harga sembako dll yang akan mempengaruhi kelangsungan hidup rakyat kecil
4.Perlu ditingkatkan lagi program kerja sebuah instansi dari tingkat pimpinan sampai dengan staf-staf dibawahnya, dimonitoring pelaksanaan program serta dievaluasi secara berkala.
5.Good governance erat kaitannya dengan moral individu, hal ini perlu pemikiran serius untuk dapat direalisasikan di Indonesia.
Mungkin ini hanyalah hasil pemikiran orang bodoh yang menulis seenaknya saja, dan tidak perlu ditindaklanjuti secara berlebihan. Tapi dari hati yang paling dalam kami menginginkan perubahan pada negeri ini kearah yang lebih baik…semoga..

Rabu, 08 Desember 2010

HAKEKAT HIDUP

Secangkir kopi membuat mata ini susah untuk istirahat, dipojok kanan bawah layar netbook udah menunjuk pukul 00.35 WIB. Suasana malam ini sungguh sangat hening dan seolah mengajak alam pikiranku untuk memutar kembali momen-momen penting seharian tadi, mencoba introspeksi. Teringat pagi hari tadi 06.30 WIB ada teman yang menurutku terlalu berlebihan dalam mengkritisi pekerjaan. Perasaan tidak puas selalu menggelayuti orang-orang seperti mereka, tuntutan yang terlalu berlebihan tanpa melihat kinerjanya selama ini, orientasinya hidupnya adalah materi sehingga berat mulutku untuk tidak mengatakan mereka MATERIALISTIS....sungguh kasihan
Aku termasuk orang yang meyakini bahwa jabatan/ materi (uang) akan berjalan beriringan dengan pekerjaan yang ikhlas, bertanggungjawab dan profesional. Hanya pemimpin yang bodoh yang memberikan kepercayaan kepada anak buahnya yang tidak amanah dan mempunyai track record yang jelek. Teringat kalimat dari ustad ”Jika amanah diabaikan, maka tunggulah kehancurannya”
Pukul 11.00 WIB pimpinan memanggil ada informasi bahwa ibu dari teman kerjaku meninggal dunia, Innalillahi waina ilaihi roji’un. Kupandangi jasad yang telah terbujur kaku dan diselimuti kain, benar-benar mengingatkanku pada hari akhir. ”Setiap yang bernafas pasti akan mengalami kematian” dan kematian adalah awal dari sebuah kehidupan yang abadi. Kalau sudah mati, ambisi, harta kekayaan, dan jabatan apa yang masih kita bangga-banggakan?itu semua tidak akan berarti sama sekali....
Pada akhirnya apapun pekerjaan kita haruslah kita jalani dengan ikhlas dan penuh tanggungjawab, karena setiap detik waktu yang kita lalui nantinya akan dipertanggungjawabkan dihadapan Alloh SWT.
Islam dengan Al Qur’an sebagai kitab sucinya adalah agama yang sempurna*****mencakup segala aspek kehidupan yang mengatur manusia dari tarikan nafas pertama didunia hingga hembusan nafas terakhir hidup manusia ****** bahkan mencakup pengetahuan kehidupan setelah kematian. *****Sehingga tidak perlu diragukan lagi kebenaran Al Qur an dan Sunah Rosululloh sebagai pedoman hidup umat Islam.*****Dan janganlah kita berbuat dholim dengan menambah atau mengurangi ajaran Allah ini.*****Cukuplah bencana yang bertubi-tubi mendera negeri ini mengingatkan kita.