SUDAHKAH ANDA SHOLAT ???

Jumat, 18 Mei 2012

GURUKU NGAMBEK

Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Diam semuanya ! saya tidak akan mengajar dikelas ini sebelum kalian minta maaf ! Nada tinggi dan keras menghentakkan anak-anak yang sedang ramai dikelas, sesaat kemudian guru itu meninggalkan murid-muridnya menuju ke kantor. Demikian salah satu kejadian yang sedikit mengusik pikiran untuk menulis artikel ini. Bagi beberapa guru, menguasai kelas menjadi salah satu beban yang sungguh lebih berat daripada mengangkat benda secara fisik. Ini merupakan fenomena pendidikan yang menyedihkan, ketika menjumpai kelas dengan kondisi gaduh karena segelintir anak akhirnya semuanya kena, hak anak-anak yang rajin untuk mendapatkan materi pemelajaran akhirnya tidak tersampaikan. Terlebih lagi untuk mereka yang sekolah di swasta yang notabenenya biaya pendidikan ditanggung sepenuhnya oleh wali murid, orangtua susah payah mendapatkan uang untuk biaya sekolah anaknya akhirnya tidak sesuai dengan apa yang didapatkan. Ada beberapa faktor kemungkinan yang menyebabkan guru kurang bisa menguasai kelas sehingga harus meninggalkan kewajibannya mengajar, diantaranya:
1. Permasalahan diluar sekolah yang terbawa sampai di kelas Hal ini bisa terjadi ketika kita tidak bisa menempatkan diri dan memilah mana persoalan pekerjaan dan mana persoalan pribadi. Seorang guru yang berangkat sekolah dengan segudang permasalahan dari rumah akan sedikit mempengaruhi komunikasi mereka dengan anak-anak di kelasnya, pertengkaran dengan suami/istri dirumah bisa terbawa sampai dikelas sehingga anak-anak dikelas menjadi bulan-bulanan kemarahannya.
2. Penguasaan materi Pengaruh guru yang belum menguasai materi sangat signifikan dengan penurunan self confidence selama mengajar, dan ketika hal ini terjadi maka kebanyakan apa yang disampaikan guru akan cenderung keluar dari materi pemelajaran, baik dengan lelucon maupun tema –tema yang dirasa disenangi. Bila hal ini terjadi maka tujuan pemelajaran tidak akan tercapai dengan maksimal.
3. Terbentuknya image negatif pada suatu kelas “Saya paling benci kalau masuk kelas ‘x’ , pasti rame, gaduh, dan anak-anaknya susah diatur” begitulah keluhan seorang guru dengan rekan guru yang lain. Terkadang ada satu atau beberapa kelas dalam sebuah sekolah yang dicap jelek oleh guru, dikarenakan perilaku penghuninya yang “kurang perhatian” saat diajar. Ketika guru sudah menjastifikasi sebuah kelas menjadi kelas yang susah diatur, maka akan terbentuk image pada masing-masing anak bahwa mereka benar-benar susah diatur, sehingga mereka akan berlaku demikian pada setiap guru.
4. Beban tugas sampingan Ketika seorang guru mendapatkan tugas sampingan/ tambahan terkadang juga akan mengganggu tugas pokoknya sebagai pendidik. Ada beberapa guru yang justru lebih mengutamakan tugas sampingannya daripada bertatap muka dengan anak-anak di kelas. Hal ini tentunya sangat merugikan anak-anak disaat mereka membutuhkan penjelasan suatu materi, yang didapatkan hanya ketrampilan menulis melalui CBSA (Catat Buku Sampai Abis). Hal ini juga menimbulkan kegaduhan dan tentunya mengganggu kelas yang lain.
 5. Kesadaran atas tanggungjawab seorang guru Profesi guru adalah mulia, dan didalamnya dibutuhkan perjuangan dan keikhlasan. Tidak mudah memberikan ilmu yang sudah kita punyai tanpa mengurangi sedikitpun pada anak-anak. Keberhasilan pendidikan pada khususnya dan kemajuan negeri ini pada umumnya salah satunya ditentukan dari apa yang kita lakukan bersama anak-anak didalam kelas. Dengan munculnya kesadaran diri tentang tannggungjawab yang besar ini akan memunculkan semangat untuk menjadi guru yang baik dan melaksanakan amanah ini dengan sungguh-sungguh. Karena “Guru yang baik selalu punya alasan untuk terus menjalankan profesinya tanpa bisa dimengerti oleh orang lain”
Tidak ada masalah yang tidak bisa diselesaikan, termasuk permasalahan diatas, apabila ada niat tulus di hati ini untuk melakukan perbaikan dari waktu ke waktu.insyaallah kita akan menjadi pribadi-pribadi yang tangguh sebagai suri tauladan anak-anak kita Pandai-pandailah memilah permasalahan dirumah/ diluar sekolah jangan sampai masuk dan merugikan anak-anak didalam kelas. Sediakan sedikit waktu untuk mendalami materi yang akan disampaikan dan janganlah menganggap remeh materi. Bila perlu praktekan didepan kaca sehingga kita tahu kekurangan kita, karena kaca tidak pernah bohong.
Anak-anak yang dalam tanda kutip gaduh, pada dasarnya mereka butuh diperhatikan. Mungkin sedikit sanjungan akan membuatnya sedikit lebih tenang. Berilah pengertian bahwa untuk bisa dihargai orang lain kita perlu belajar menghargai orang yang bicara didepan kita. Sesekali tindakan tegas juga perlu dilakukan ketika dengan cara halus tidak berhasil. Namun yang perlu diketahui jangan sampai anak-anak memendam dendam di hatinya, salah satu caranya setelah kita bertindak tegas pada mereka sebaiknya kita temui mereka empat mata dan sampaikan dengan baik-baik bahwa yang kita lakukan adalah demi kebaikan nya. Jangan sekali-kali menjastifikasi suatu kelas menjadi kelas yang terburuk atau semacamnya, karena akan membangun image pada mereka sesuai dengan apa yang kita tuduhkan.
Hendaknya tugas sampingan guru tidak mengganggu tugas pokoknya sebagai pendidik dengan memenuhi tatap mukanya dengan anak-anak. Kehadiran seorang guru tidak akan bisa tergantikan dengan sepeda motornya, jaketnya yang ditinggal di meja maupun sekedar buku pelajarannya di kelas. Anak-anak bisa menjadi seorang perusak yang dahsyat ketika ditinggal guru dalam kelasnya, tembok yang bersih bisa berubah menjadi lukisan abstrak hasil dari luapan emosinya, meja yang kokoh bisa jadi patah kakinya, dan masih banyak lagi kerusakan yang bisa terjadi, dan itu bukanlah sepenuhnya kesalahan anak-anak. Itu semua hanyalah merupakan efek samping dari rasa ketidakpuasan mereka.
Guru laksana artis yang disorot anak-anak dan masyarakat baik disekolah maupun diluar sekolah. Untuk itu perlu kiranya kita menjaga diri dari perkataan dan perilaku yang jauh dari sosok seorang guru. Disinilah letak tanggungjawab profesi guru yang berbeda dengan profesi yang lain. Ketika kita bisa menghayati peran kita dengan baik, insyaallah anak-anak akan merasa puas dan itu merupakan promosi yang paling efektif untuk kemajuan sekolah kita. Semoga kita bisa menjalankan tugas kita sebagai seorang pendidik yang baik dan amanah sehingga setiap tetes rizki yang kita berikan kepada anak istri menjadi barokah adanya. Wallahu’alam. Wassalamualaikum warrahmatullahi wabarakatuh.

2 komentar:

GP mengatakan...

Artikel bagus Oom... tapi tata naskahnya agak ruwet, susah dibaca. Coba itu rincian/penjelasan angka 1 s/d 5 setelah kata "meninggalkan kewajibannya mengajar, diantaranya: ..." dibuat putus per-paragraf akan lebih baik...

Slamet selahukh mengatakan...

bener itu pak ,, apalagi untuk sekolah sewasta mayoritas mereka anak2 yg bisa dibilang nakal ,wlaupun gk semuanya,,, siippp

liat blog q juga pak.. hehe www.selahukh.uni.me

Islam dengan Al Qur’an sebagai kitab sucinya adalah agama yang sempurna*****mencakup segala aspek kehidupan yang mengatur manusia dari tarikan nafas pertama didunia hingga hembusan nafas terakhir hidup manusia ****** bahkan mencakup pengetahuan kehidupan setelah kematian. *****Sehingga tidak perlu diragukan lagi kebenaran Al Qur an dan Sunah Rosululloh sebagai pedoman hidup umat Islam.*****Dan janganlah kita berbuat dholim dengan menambah atau mengurangi ajaran Allah ini.*****Cukuplah bencana yang bertubi-tubi mendera negeri ini mengingatkan kita.